Senin, 28 Januari 2013

Tes Spirometri

Apa itu Tes Spirometri?

Spirometri adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengukur secara obyektif kapasitas/fungsi paru (ventilasi) pada pasien dengan indikasi medis. Alat yang digunakan disebut spirometer.

Tujuan :
-       mengukur volume paru secara statis dan dinamik
-       menilai perubahan atau gangguan pada faal paru

Prinsip spirometri adalah mengukur kecepatan perubahan volume udara di paru-paru selama pernafasan yang dipaksakan atau disebut forced volume capacity (FVC). Prosedur yang paling umum digunakan adalah subyek menarik nafas secara maksimal dan menghembuskannya secepat dan selengkap mungkin  Nilai FVC dibandingkan terhadap nilai normal dan nilai prediksi berdasarkan usia, tinggi badan dan jenis kelamin.

Sebelum dilakukan spirometri, terhadap pasien dilakukan anamnesa, pengukuran tinggi badan dan berat badan. Pada spirometer terdapat nilai prediksi untuk orang Asia berdasarkan umur dan tinggi badan. Bila nilai prediksi tidak sesuai dengan standar Indonesia, maka dilakukan penyesuaian nilai prediksi menggunakan standar Indonesia. Volume udara yang dihasilkan akan dibuat prosentase pencapaian terhadap angka prediksi.

Spirometri dapat dilakukan dalam bentuk social vital capacity (SVC) atau forced vital capacity (FVC). Pada SCV, pasien diminta bernafas secara normal 3 kali (mouthpiece sudah terpasang di mulut) sebelum menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskan secara maksimal. Pada FVC, pasien diminta menarik nafas dalam-dalam sebelum mouth piece dimasukkan ke mulut dan dihembuskan secara maksimal.

Pengukuran fungsi paru yang dilaporkan :
  1. Forced vital capacity (FVC) adalah jumlah udara yang dapat dikeluarkan secara paksa setelah inspirasi secara maksimal, diukur dalam liter.
  2. Forced Expiratory volume in one second (FEV1) adalah jumlah udara yang dapat dikeluarkan dalam waktu 1 detik, diukur dalam liter. Bersama dengan FVC  merupakan indikator  utama fungsi paru-paru.
  3. FEV1/FVC merupakan rasio FEV1/FVC. Pada orang dewasa sehat nilainya sekitar 75% - 80%
  4. FEF 25-75% (forced expiratory flow), optional
  5. Peak Expiratory Flow (PEF), merupakan kecepatan pergerakan udara keluar dari paru-paru pada awal ekspirasi, diukur dalam liter/detik.
  6. FEF 50% dan FEF 75%, optional, merupakan rata-rata aliran (kecepatan) udara keluar dari paru-paru selama pertengahan pernafasan (sering disebut juga sebagai MMEF(maximal mid-expiratory flow)

Klasifikasi gangguan ventilasi (% nilai prediksi) :

Gangguan restriksi      : Vital Capacity (VC) < 80% nilai prediksi; FVC < 80% nilai prediksi
Gangguan obstruksi : FEV1 < 80% nilai prediksi; FEV1/FVC < 75% nilai prediksi
Gangguan restriksi dan obstruksi : FVC < 80% nilai prediksi; FEV1/FVC < 75% nilai prediksi.

Bentuk spirogram adalah hasil dari spirometri. Beberapa hal yang menyebabkan spirogram tidak memenuhi syarat :
  1. Terburu-buru atau penarikan nafas yang salah
  2. Batuk
  3. Terminasi lebih awal
  4. Tertutupnya glottis
  5. Ekspirasi yang bervariasi
  6. Kebocoran

Setiap pengukuran sebaiknya dilakukan minimal 3 kali. Kriteria hasil spirogram yang reprodusibel (setelah 3 kali ekspirasi) adalah dua nilai FVC dan FEV1 dari 3 ekspirasi yang dilakukan menunjukkan variasi/perbedaan yang minimal (perbedaan kurang dari 5% atau 100 mL).


Spirometer yang dipakai di Poli Paru RSUP Sanglah

Pengalaman Bunda
 
Kemaren, 28 Januari 2013, Bunda Arya dianjurkan untuk melakukan tes spirometri oleh dokter jaga di Poli Paru RSUP Sanglah. Tes ini merupakan tes lanjutan setelah Bunda melakukan rontgen thorax dan dokter mengindikasikan Bunda mengidap bronkitis kronis. Ngeri juga sih dengernya. Dan kata dokter perlu observasi lanjutan agar dapat diberikan pengobatan secara optimal.

Tesnya menggunakan Spirometer seperti gambar di atas, dan menggunakan pipa baru (Bunda ga tau namanya, pokoknya pipanya dimasukkan ke mulut). Tesnya terdiri dari 3 jenis, yaitu :
1. Tes nafas normal melalui mulut (hidung ditutup), dan diulang sebanyak 3 kali
2. Tes dengan mengambil nafas sedalam-dalamnya, kemudian dihembuskan dengan cepat sampai udaranya habis, diulang sampai 3 kali
3. Tes dengan nafas dalam dan cepat (seperti nafas bayi), dilakukan hanya 1 kali

Setelah ketiga tes dilakukan, dari spirometer keluar hasil menyerupai grafik-grafik dan angka-angka yang Bunda sama sekali ga ngerti bacanya. Lalu Bunda tanya kepada perawat yang mendampingi tes mengenai hasil tes tersebut. Entah karena hasilnya buruk atau diindikasikan ada kesalahan waktu tes, perawat itu bilangnya "Ya nanti saya akan telp ibu mengenai hasilnya atau ibu harus tes ulang". Nah loo.. kan bikin jantung dag dug seerrr aja,,,ya mudah-mudahan saja tidak ada indikasi penyakit beratnya... Astungkara...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar